Menu Tutup

4 Tahun NET TV dan 3 Tahun RTV: "Sudah Balik Modal ?"

Tahun ini, pada bulan Mei yang akan datang, dua stasiun televisi swasta akan berulang tahun. NET TV dan RTV. Beda selisih satu tahun dan beberapa minggu, kini bisa kita saksikan keanekaragaman sebuah tontonan diluar 10 stasiun televisi swasta pendahulunya.
Ini menarik, ketika kita membicarakan Break Even Point (BEP, kasarnya adalah : Balik Modal) sebuah stasiun televisi. Titik kesuksesannya bukan hanya dari sajian konten dan adu teknologi. Sumber Daya Manusia, Kue Iklan, dan jumlah pemancar adalah sebuah tolok ukur sebuah stasiun televisi bisa dikenal luas oleh masyarakat.
NET TV sejauh ini belum ada inovasi atau variasi acara baru. Meski saya tidak lagi menyaksikan siaran ini, namun dari laporan teman2 di grup ini saya sudah bisa memetakan apa yang dilakukan stasiun televisi dibawah payung korporasi Indika Group ini. Masih bertahan dengan konsep tahun lalu, dengan mempertahankan sitkom dan aneka komedi yang dianggapnya “anti mainstream”. Walau pasti, disini sudah banyak teman2 yang menilai “lama-lama jadi bosan”. Seperti memindahkan acara Trans TV atau Trans7 ke NET TV. Iklan-iklan sudah mulai mengisi slot siaran NET TV, tentu saja dengan patokan sendiri. Dan selama tahun 2016 kemarin, saya belum lihat acara olahraga atau bahkan acara bersegmentasi usia khusus (terutama anak2) di NET TV. Gambaran ini yang mestinya bisa dicermati. Apakah NET TV belum mencapai BEP di tahun kemarin ? Atau bahkan di tahun ini akan ada perubahan ?
Mengundang artis mancanegara di ulang tahun NET adalah sebuah tradisi. Tapi itu hanyalah momen sesaat, bukan seterusnya. Menghabiskan sebuah ide dan materi namun tidak mengubah inovasi baru untuk acara harian jelas tidak akan mengubah apapun dari NET TV. Tentu saja, kalau bicara tentang gengsi dan kondisi finansial, masalah ini merupakan masalah yang paling krusial.
Bagaimana dengan RTV ? Ada sedikit yang berbeda dari RTV. Kerjasamanya dengan Persari Film dan Genta Buana Paramita (eks Pitaloka) yang dimulai 2016 silam adalah sebuah penilaian baru bagi stasiun televisi milik Rajawali Corpora yang dikendalikan Peter Sondakh, mantan pemilik RCTI. RTV bagaikan angin segar bagi pemirsa pencinta aneka drama lawas, apalagi Persari Film dan Genta Buana Prod. yang dikenal “punya visi misi pendidikan yang kental di dalam sinetronnya” ini menghasilkan penilaian bertahan bagi RTV, yakni “Edutainment”
Dalam laporan keuangan, Induk usaha RTV yakni Rajawali Corpora memang sedang pasang surut. Namun itu tidak mengubah prinsip RTV yang tetap mempertahankan adaptasi dari nama lamanya, B-Channel. Walau sekarang iklan rokok pun muncul di RTV. Saya mesti katakan ini kasar. “Menjilat ludah sendiri”. Baik di zaman Bu Sofia Koswara (B-Channel) hingga saat dipegang oleh Bu Limi, keduanya memegang prinsip “jangan ada iklan rokok”, dan setelah keduanya tidak lagi ada di RTV, petanya berubah. Iklan rokok dimana2. Mengejar BEP terlihat susah payah, dengan inkonsistensi manajemen yang dibilang “aneh”. Ya aneh, bisa dikatakan demikian.
Gonjang ganjing perpolitikan di DKI Jakarta telah membuat beberapa stasiun televisi ikut terbawa pusaran yang mengenaskan. Namun baik RTV dan NET TV, mereka bisa dikatakan “selamat” dari putaran ganasnya manusia-manusia miskin nalar demi ambisi politik dan nafsunya akan idealisme memilih pemimpin. Tapi saya lihat, RTV dan NET TV nyaris membuat kesalahan fatal. Disini teman2 bisa lihat bahwa NET TV beberapa bulan lalu mencoba close up ke arah wajah Agus Harimurti Yudhoyono. Sementara RTV close up ke wajah Basuki Tjahaja Purnama. Nyaris…nyaris membuat keduanya ikut terseret masalah. Meski kita disini sudah sadar siapa pemilik NET dan RTV, tapi orang awam belum tentu mengetahui. Disinilah was-wasnya. Sekali saja membuat kesalahan fatal, stasiun televisi yang baru seumur jagung ini akan merasakan akibatnya….
Kembali lagi ke BEP. Akankah tahun ini keduanya sukses meraih keuntungan ? Kita lihat saja di Bulan Mei mendatang.
Sumber : Kaliandra

Baca Juga