Menu Tutup

[Fokus] e-Sport Masuk Kurikulum Sekolah, Mungkinkah Terjadi?

Hai, MedForians!
Topik fokus kali ini hadir dari dunia e-Sport yang akan dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Topik ini sendiri didasari pendapat dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Mempora) Imam Nahrawi yang sempat viral terkait kemungkinan masuknya e-Sport ke dalam kurikulum sekolah.

Pro-Kontra e-Sport Masuk Kurikulum Sekolah

Dilansir dari CNN, Imam Nahrawi berpendapat bahwa e-Sport harus mulai masuk ke kurikulum pendidikan untuk mengakomodasi bakat-bakat muda. Dirinya juga menyebutkan bahwa Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) telah menganggarkan dana Rp50 miliar untuk menggelar kompetisi-kompetisi di level sekolah, dan mulai cair usai kompetisi Piala Presiden.

“Kurikulum harus masuk di sana, pelatihnya harus masuk di sana. Kalau sudah seperti itu, tentu harus bekerja sama, harus kolaborasi,” kata Imam kepada awak media di kantor Sekretariat Kabinet, Senin (28/1).

Kemudian, dilansir dari Tirto.id Selasa (29/1), ia sempat menyatakan keseriusannya perihal mendorong eSport masuk ke dalam kurikulum sekolah menengah. Oleh karena itu, dia pun meminta para kepala sekolah memberi rekomendasi untuk pemasukan eSport ke kurikulum pendidikan siswa.

“Harus ada rekomendasi dari kepala sekolah karena ini sebuah prospek, memberi harapan masa depan, baik itu dalam konteks industri olahraga, maupun prestasi olahraga,” kata Nahrawi.

Guna mewujudkan hal itu, Imam menyebut harus ada pemahaman serupa dari lembaga pendidikan juga kementerian terkait dari Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi. Ia juga berencana mendiskusikan ide tersebut terlebih dahulu dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

BACA JUGA :  Kaesang Resmi Jadi Atlet e-Sports Tim Mobile Legends Aerowolf

Namun, pendapat Menpora ini dikritik pengamat pendidikan dari Universitas Multimedia Nusantara, Doni Koesoema. Ia beralasan bahwa menyatakan bahwa game online hanya mengoptimalkan olah pikiran dan keterampilan tangan, sehingga lebih layak untuk menjadi kegiatan ektrakurikuler saja.

“Game online sebagus apa pun merupakan permainan yang menjauhkan anak-anak dari dunia nyata dan interaksi sosial,” ujar Doni.

“Yang diperlukan anak Indonesia adalah olahraga sungguhan. Karena menjadi amanat revolusi mental pendidikan, melalui Perpres penguatan pendidikan karakter,” pungkasnya.

Dunia Akademis dan e-Sport

Hingga saat ini, baru ada satu sekolah yang menerapkan e-Sport ke dalam kurikulum sekolah, yakni SMA 1 PSKD. SMA ini sendiri terletak di Jakarta Pusat. Dilansir dari web resmi SMA 1 PSKD, programnya didesain agar siswanya bisa mengemangkan karir dan minat di dunia e-Sport. Ada tiga cabang yang menjadi fokus, yakni Dota 2, Overwatch, dan Counter Strike: Global Offensive.

Selain SMA 1 PSKD, dunia e-Sport juga sudah merambah dunia kampus. Salah satu kampus swasta terkenal yakni Universitas Dian Nuswantoro, atau disebut juga dengan UDINUS telah meluncurkan program e-Sport. Bekerja sama dengan IeSPA, program ini membina mahasiswa agar bisa menjadi pemain eSports professional, eSports manager, eSports coach, eSports analist, broadcaster, brand ambassador, dan bahkan menjadi eSports event management. Selain Dota 2 dan CS: GO yang menjadi cabang utama, program ini mendukung game lainnya, seperti Mobile legend, Point Blank, Arena Of Valor, dan League Of Legend.

BACA JUGA :  Kaesang Resmi Jadi Atlet e-Sports Tim Mobile Legends Aerowolf

Sebagai penutup, berikut redaksi memberikan  pendapatnya

“Kurikulum di Indonesia masih banyak yang harus diperbaiki. Fokus utama pemerintah seharusnya dapat membuat siswa menjadi lebih giat dan menyukai apa yang ingin dipelajari. Jika memang benar direalisasikan, tentunya masyarakat awam juga harus dididik untuk melihat kemauan dan potensi buah hati mereka terutama dalam bidang ini. Kontrol juga tidak bisa dilepaskan begitu saja.”

Muhammad Ferdiansyah, CEO Media Formasi

Kembali ke Atas

MedForians Wajib Baca Ini!

×