Menu Tutup

Memahami Teknologi Sistem Injeksi Pada Sepeda Motor

Hai MedForians!
Mungkin diantara kalian ada yang memiliki atau mengendarai sebuah sepeda motor keluaran terbaru yang sudah memiliki sistem Injeksi atau biasa disebut Fuel Injection (FI), Tapi pernakah MedForians penasaran tentang bagaimana cara kerja Fuel Injection (FI) pada kendaraan kalian?, Oleh karena itu pada artikel kali ini, Kita akan memahami bagaimana sistem injeksi bekerja.

Sistem injeksi pada sepeda motor memiliki banyak nama sesuai dengan pabrik dimana injeksi tersebut dibuat, Misal nya Astra Honda Motor (AHM) memberi nama sistem injeksinya dengan sebutan PGM-Fi (Proggarmed Fuel Injection) dan Yamaha dengan YMJET-FI (Yamaha Mixture Jet – Fuel Injection), Persamaan dari sistem PGM-FI dan YMJET-FI adalah mengefisiensikan pengunaan bahan bakar sesuai kondisi berkendara, Misalnya saat kita berkendara dengan kecepatan rendah maka penyemprotan bahan bakar ke silinder mesin dikecilkan agar kendaraan menjadi irit, Sebaliknya saat gas ditarik lebih dalam maka penyemprotan bahan bakar ke ruang silinder mesin menjadi lebih banyak agar tenaga yang dihasilkan maksimal.

Sistem injeksi memiliki sebuah komponen-komponen seperti ECU, Injektor, Sensor, Lampu indikator MIL atau kebanyakan orang menyebut Check Engine dan konektor DLC atau OBD, Pertama kita pahami dulu apa itu ECU, ECU (Engine Control Unit) adalah komponen yang memiliki peran sebagai pengendali utama atau jika pada komputer maka ECU itu seperti CPU yang mengendailkan fungsi hardware pada kendaraan, hardware-hardware yang dikendalikan berupa aktuator yang bekerja mengatur sistem mekanis seperti Injektor, Pompa Bensin, Kipas Radiator, Busi, dan lainnya, Pertama kita akan membahas fungsi dari Injektor, Injektor adalah komponen yang menyemprotkan bensin dalam bentuk kabut ke dalam ruang silinder mesin sesuai perintah dari ECU.

Sistem injeksi juga memiliki sensor yang memiliki banyak fungsi, Sensor MAP (Manifold Air Pressure) yang berfungsi mendeteksi tekanan udara yang dihisap oleh mesin, Sensor TP (Throttle Position) untuk mendeteksi seberapa besar bukaan gas, Sensor CKP (Crankshaft Position) sebagai pendeteksi posisi piston agar ECU bisa menyalakan busi dengan tepat, Dan terakhir sensor EOT (Engine Oil Temperature) dan ECT (Engine Coolant Temperature) yang berfungsi sebagai pendeteksi suhu mesin melalui oli (EOT) untuk mesin berpendingin udara dan melalui air radiator (ECT) untuk mesin berpendingin radiator.

BACA JUGA :  Antisipasi Titip Absen, Universitas di China Pakai AI

Selain ECU, Injektor, Dan Sensor, Sistem Injeksi juga memiliki indikator yang wajib hadir pada setiap kendaraan yang telah menggunakan sistem injeksi, Indikator tersebut disebut dengan MIL (Malfuction Indicator Light) atau beberapa mekanik menyebutnya Check Engine, Indikator Check Engine berfungsi menginformasikan pemilik kendaraan atau mekanik bahwa sistem injeksi mengalami masalah, Entah itu pada Sensor, Injektor, maupun pompa bahan bakar, Jika benar terjadi masalah, Maka lampu indikator akan berkedip panjang dan pendek yang mengisyaratkan kode yang disebut DTC (Data Trouble Code), Panjang pendeknya kedipan sesuai dengan kerusakan dan masalah yang terjadi dan setiap kerusakan yang terjadi maka akan berbeda pula kedipannya.

Misalnya salah satu kabel sensor MAP terputus makan ECU akan mengedipkan lampu Check Engine dengan kode 12 (Perlu di ingat, Kedipan lampu Check Engine setiap merek kendaraan berbeda-beda) yaitu 1 kedipan panjang dan 2 kedipan pendek, Jadi jika lampu Check Engine berkedip dengan 1 kedipan panjang dan 2 kedipan pendek maka terjadi masalah pada sensor MAP, Begitu pula jika pada saat komponen lain terjadi masalah, Maka Lampu Check Engine juga akan bekedip (Untuk mengetahui kode DTC pada setiap kendaraan silahkan cari artikel di google).

Tidak hanya melalui kedipan, Kode DTC juga bisa dilihat menggunakan alat yang disebut Scan Tool, Alat ini memiliki banyak fungsi, Mulai dari melihat kode DTC secara lengkap tanpa harus membaca kedipan Check Engine, Memeriksa data-data input dari sensor, Dan lain sebagai nya, Sebelum menggunakan Scan Tool ini kita harus memahami sebuah konektor yang disebut DLC atau OBD Port, Kegunaan dari konektor ini adalah sebagai komunikasi antara ECU dengan Scan Tool, Laptop maupun PC.

Sistem injeksi juga ada memiliki beberapa tipe, Yang pertama adalah tipe Open Loop, Pada injeksi tipe Open Loop kinerja mesin yang dikontrol lewat oleh ECU tidak menerima output hasil pembakaran, pada tipe Open Loop ECU tidak dapat menyesuaikan campuran bensin dengan udara di sebelum dibakar oleh busi atau mesin, Sehingga pada injeksi tipe Open Loop campuran antara bensin dan udara selalu berubah-ubah sesuai dengan kondisi udara disekitar, Dan juga pada injeksi tipe Open Loop masih terdapat bagian mekanis yang dapat kita atur secara manual, Misal nya putaran stasioner mesin masih dapat diatur menggunakan obeng.

BACA JUGA :  Kecepatan Internet Seluler Indonesia Paling Lambat Se-Asia Tenggara

Tipe kedua ialah injeksi tipe Close Loop, Tidak seperti Open Loop, Injeksi tipe Close Loop mampu mendeteksi gas buang yang dihasilkan mesin melalui sensor yang disebut Sensor O2 (Oxygen Sensor), Pada tipe Close Loop, ECU campuran bensin dengan udara selalu seimbang (Biasanya angka AFR akan selalu sama pada angka 14,0) , Cara kerja Sensor Oksigen adalah, Sensor akan membandingkan udara yang dihasilkan oleh mesin dengan udara yang ada disekitar kendaraan dan kemudian informasi tersebut dikirim ke ECU untuk diproses, Umumnya sensor terpasang pada leher knalpot agar sensor bisa mendeteksi gas buang secara akurat, Tetapi pada tipe Close Loop kita tidak bisa merubah putaran stasioner secara manual menggunakan obeng, Melainkan kita harus menggunakan Laptop atau PC yang terinstall software untuk memodifikasi ECU agar kita bisa merubah putaran stasioner mesin, Campuran bensin dengan udara, Waktu pengapian, Dan lain sebagainya.

×