Menu Tutup

Hari Pers Nasional: Masa Lalu, Hari Ini, dan Esok

Hai, MedForians!

Hari ini adalah Hari Pers Nasional, yang bertepatan dengan hari berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia.

Sejarah singkat HPN dan PWI

Hari Pers Nasional atau HPN diselenggarakan untuk merayakan hari jadi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 5 pada tahun 1985. Keputusan Presiden Soeharto pada tanggal 23 Januari ini menyatakan bahwa pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila. Selain itu dewan pers kemudian menetapkan hari pers nasional dilaksanakan setiap tahunnya secara bergantian di ibu kota provinsi se-indonesia.

Persatuan Wartawan Indonesia sendiri berdiri di Surakarta pada 9 Februari 1946, melalui pertemuan antar wartawan. Berdirinya organisasi ini menjadi awal perjuangan para pendahulu bangsa dalam menentang kolonialisme di Indonesia melalui media dan tulisan.

HPN 2019, “Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital”

Pada HPN 2019 kali ini, peringatan secara nasional dilaksanakan di Surabaya, Jawa Timur dengan tema “Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital”. Dalam acara yang diadakan di Hotel Sheraton, Surabaya, Jawa Timur, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menilai insan pers harus tetap menunjukkan optimistisme dalam menghadapi digitalisasi. “Kita khawatir boleh, tapi harus tetap tunjukkan. Saya tidak khawatir mengenai perubahan yang terjadi saat ini, dengan digitlalisasi,” jelas Rudiantara.

BACA JUGA :  [FOKUS] Jejak Rasul, Dokumenter yang Selalu Hadir Setiap Ramadan

Bagaimana pers menyikapi digitalisasi?

Mengenai digitalisasi, Menteri Kominfo menilai perubahan itu sebagai peristiwa yang tidak bisa dihindari. Meski demikian, digitalisasi tetap membutuhkan kesiapan sumber daya manusia. 

Menteri Kominfo mendorong jurnalis dan pemilik media memanfaatkan digitalisasi yang tengah berlangsung untuk menumbuhkembangkan ekonomi Indonesia. “Ada asosiasi, PWI, AJI, IJTI ada juga SPS. Bagaimana digital itu dimanfaatkan untuk menumbuhkembangkan ekonomi? Bagaimana mendorong pertumbuhan dari enterpreneur atau UKM di Indonesia,’ ungkapnya.

Menurutnya, ekonomi digital akan menciptakan lapangan pekerjaan baru (workforce digitalization), menggunakan pendekatan ekonomi berbagi (shared economy) serta mengembangkan inklusi keuangan.

Pers dan Kebebasan Berpendapat

Ditengah hingar bingar perayaan HPN 2019, isu kebebasan pers di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Kekerasan masih terjadi terhadap awak media. Indonesia ada di ranking 124 dari 180 negara, dalam indeks kebebasan pers versi Reporters Without Borders pada 2018. Undang-Undang ITE dan perubahan hukuman serta remisi untuk I Nyoman Susrama, terpidana kasus pembunuhan jurnalis Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa menjadi sorotan utama.

BACA JUGA :  Eks Mendikbud Mohammad Nuh Terpilih Sebagai Ketua Dewan Pers 2019-2022

Semestinya, HPN 2019 kali ini menjadi titik balik untuk penyelesaian kasus-kasus pelanggaran hak asasi terhadap juru warta.

Pers adalah instrumen paling baik dalam pencerahan dan meningkatkan kualitas manusia sebagai makhluk rasional, moral, dan sosial.

-Thomas Jefferson, Presiden ke-3 Amerika Serikat

Sumber: Beritagar, Detik, dan Kastara.id

Kembali ke Atas

MedForians Wajib Baca Ini!

×