Menu Tutup

Hadir di Pertemuan G20, Menkominfo Singgung Privasi dan Perlindungan Data

Hai, MedForians!

Berita terbaru hadir dari pertemuan G20. Pertemuan para menteri digital anggota G20 di Jepang kali ini mendorong untuk diperbolehkannya pertukaran data informasi secara global.

Dikutip dari detikINET, Sabtu (8/6), Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara yang hadir dalam pertemuan itu meningatkan kepada forum soal privasi dan perlindungan data.

Di G20 Digital Economy Ministerial Meeting, Menkominfo hadir bersama Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang mewakili Indonesia pada pertemuan tersebut.

Ada tema besar dan menjadi bagian deklarasi dalam pertemuan antar-menteri 20 negara besar ini, di antaranya terkait Society 5.0, Human Centered Artificial Intelligence, Data Free Flow with Trust (DFFT), Government Innovation, Security, dan SDGs & Inclusion.

Dari keenam tema di atas, pembahasan mengenai DFFT jadi yang paling mendominasi. DFFT yang diinisiasi Jepang sebagai Presidency G20 diyakini akan meningkatkan efisiensi proses bernilai ratusan miliar USD setiap tahunnya.

DFFT yang diusulkan adalah diperbolehkannya pemindahan/pertukaran data/informasi untuk sektor yang berbeda secara global.

“Indonesia menyampaikan counter proposal, yaitu pelaksanaannya harus dilakukan secara inklusif dan bersyarat. Harus memperhatikan aspek-aspek antara lain, masalah privasi, perlindungan data, intellectual property right & security,” kata Rudiantara.

“Lebih jauh harus juga memperhatikan/menghormati legal frameworks, baik dalam negara anggota G20 maupun secara internasional. Counter proposal Indonesia banyak didukung oleh negara anggota G20, khususnya negara-negara yang penduduknya banyak. Sampai saat ini, drafting deklarasi atas issu DFFT masih dilakukan,” tuturnya.

Rudiantara menjelaskan bahwa DFFT ini merupakan pemindahan data secara terbuka. Sebagai contoh, maskapai penerbangan yang biasa melakukan pemeliharan atas mesin jetnya berkala secara fisik.

Apabila data operasional jet dikirim setiap hari, maka proses big data analysis serta artificial intelligence bisa dibuat proyeksi, kapan harus dilakukan pemeliharaan tanpa harus dilihat secara fisik.

“Hal ini tentunya memberikan tingkat efisiensi yang tinggi. Dalam hal ini, airline tidak seharusnya memberikan halangan/batasan bagi pembuat mesin jet untuk memperoleh data secara rutin yang berasal dari mesin jet yang dibuatnya,” pungkasnya.

Kembali ke Atas

MedForians Wajib Baca Ini!

×