Menu Tutup

Inovatif! 3 Mahasiswa di Kudus Ciptakan ‘Tempat Sampah Pintar’

Hai, MedForians!

Berita terbaru hadir dari Kudus, Jawa Tengah. Tiga mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK), Jawa Tengah, menemukan solusi inovatif pengelolaan sampah berbasis internet dengan menciptakan ‘tempat sampah pintar’ berbasis internet of things (IOT).

Dilansir dari Antara dan detikINET, Selasa (18/6), tempat sampah inovatif dinamai T-Smart++. Alat tersebut bisa mengirimkan notifikasi lokasi tempat sampah serta volume sampahnya ketika sudah penuh atau belum.

Selain itu, lokasi tempat sampah yang sudah penuh itu pun akan diberitahukan agar bisa segera diambil oleh petugas sampah. Dengan demikian, pengambilan sampahnya sangat selektif dan tidak menumpuk.

Mahasiswa UMK yang membuat inovasi pengelolaan sampah tersebut, yakni Novi Arimukti dan Arsya Yoga Pratama, keduanya mahasiswa jurusan Sistem Informasi (SI), dan Bagus Utomo yang merupakan mahasiswa jurusan Teknik Elektro.

Hasil kreasi mereka ini telah mendapat pendanaan dari Kemenristek Dikti dalam program pekan kreatifitas mahasiswa (PKM).

Bagus Utomo selaku salah satu kreator menuturkan bahwa T-Smart++ tercipta berawal dari rasa resah mereka melihat sampah yang menumpuk.

“Penumpukan itu dikarenakan ada tempat sampah yang penuh, namun belum diambil karena tidak tahu lokasi mana saja tempat sampah yang sudah penuh,” kata Bagus.

Menurut dia, banyak ditemukan kasus tempat sampah sudah penuh, namun belum segera diambil karena dimungkinkan petugas pengambil sampah belum mengetahui lokasi tempat sampah yang sudah penuh tersebut.

Terkadang, lanjutnya, tempat sampah yang belum penuh justru diambil terlebih dahulu. Akibatnya, kondisi tempat sampah yang sudah penuh justru menimbulkan polusi udara.

Atas permasalahan itu, ia mengatakan muncul ide untuk membuat tempat sampah berbasis internet tersebut. Mereka sebelumnya mengonsep terlebih dulu selama sebulan hingga akhirnya konsep sampah yang diinginkan terwujud. Kemudian mereka pun mulai membuatnya, yang juga memakan waktu sebulan.

“Untuk mewujudkan tempat sampah berbasis internet tersebut, membutuhkan waktu dua bulan,” ujar dia.

Dia menjelaskan, tempat sampah pintar berbasis IOT ini memiliki beberapa kelebihan. Ketika sudah penuh, tempat sampah akan mengunci dan selanjutnya memberi notifikasi melalui HP Android ke petugas sampah, berisikan peringatan sampah penuh dan titik lokasinya.

“Sehingga memudahkan petugas sampah untuk mengetahui tempat sampah yang sudah penuh, sehingga bisa diprioritaskan untuk pengambilannya,” ujarnya.

Dia membeberkan, ada beberapa alat utama yang digunakan yakni sensor jarak HC SR04. Sensor ini digunakan untuk membaca benda yang berada di depannya, selanjutnya mengirimkan ke motor servo untuk membuka dan menutup tempat sampah. Ada kartu khusus yang berfungsi untuk membuka tempat sampah ketika penuh, agar bisa diambil sampahnya.

Selanjutnya, tambah dia, ada pula DF Player untuk mengeluarkan suara. Ketika memasukkan sampah langsung ada ucapan “terima kasih telah membuang sampah di tempatnya”.

tempat sampah T-Smart++ (sumber: detikINET)

Selain itu, ketika sampah penuh ada ucapan “maaf tempat sampah sudah penuh dan tutup tempat sampah tidak terbuka”. Hal itu membuat tutup tempat sampah otomatis tidak bisa terbuka.

Berikutnya, ada komponen NodeMCU esp8266 yang berfungsi untuk mengimkan sinyal ke internet yang akan dihubungkan ke smartphone Android.

“Komponen paling penting adalah Arduino Nano yang berfungsi sebagai otak atau CPU yang digunakan untuk memasang seluruh komponen yang ada,” ujar Bagus.

Mereka berharap inovasi tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Apalagi alat ini juga bisa digunakan pemerintah daerah, perusahaan, dan lainnya dalam pengelolaan sampah.

“Sehingga diharapkan lingkungan bisa semakin bersih, tentunya diharapkan masyarakat bisa membuang sampah pada tempatnya,” harapnya.

Tanggapan Pihak Kampus

Pihak kampus amat antusias dengan karya itu. Mereka juga mendorong agar akan muncul jejak mahasiswa lain dengan karya hebatnya.

Wakil Rektor III UMK Rohmad Winarso, ST. MT menambahkan, inovasi mahasiswa ini sudah lolos dalam program PKM Karya Cipta (KC).

Kampus mendorong mahasiswa lain mengikuti ajang bergengsi berupa PKM tersebut apalagi temuan macam ini bermanfaat bagi masyarakat.

Meski inovasi itu belum bisa dikatakan sempurna, namun ini setidaknya menjadi awal karena potensi untuk dikembangkan sangat besar.

“Inovasi ini memang belum bisa dikatakan sempurna, namun inovasi ini menjadi awal karena potensi untuk dikembangkan sangat besar,” ujar dia.

Rohmad meminta agar inovasi tersebut dipatenkan.

“Kami juga sudah meminta agar inovasi tersebut dipatenkan,” kata Rohmad.

Kembali ke Atas

MedForians Wajib Baca Ini!

×