Menu Tutup

[Fokus] Isu PHK Berjamaah, Benarkah NET Defisit dan Terancam Bangkrut?

Hai, MedForians!

Saat ini, NET sedang menjadi stasiun televisi yang hangat diperbincangkan. Bukan soal program atau acara ulang tahunnya yang dikenal megah, namun isu PHK besar-besaran menjadi perbincangan.

Stasiun berjargon ‘Televisi Masa Kini’ ini sedang menghadapi krisis pasca transisi CEO dari Wishnutama kepada Deddy Sudarijanto. Wishnutama kini menjabat menjadi komisaris NET.

Isu ini berawal dari seorang yang diduga sebagai orang dalam NET. Dikutip dari Okezone, ia membenarkan adanya PHK oleh manajemen NET. Hal tersebut berlaku untuk karyawan tetap dan kontrak.

“Menyedihkan (adanya PHK). Yang kena all staff dari atasan sama bawahan,” tutur salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya, Jumat (9/8/2019).

Isu lainnya, NET tengah mengembangan media online. Tetapi itu juga masih belum jelas kepastiannya. Sebelumnya NET sudah memiliki portal berita sendiri yang bernama NETZ.ID, sayangnya masih kurang populer di masyarakat.

Sumber lainnya menyebutkan secara rating, NET dalam posisi yang kurang beruntung. Meskipun di tahun lalu, NET direncanakan akan melantai di pasar bursa dengan nama perusahaan baru, PT. Net Visi Media.

Isu PHK NET Jadi Trending di Twitter

Dilansir dari detikcom, Trending topic Twitter Indonesia pagi ini memunculkan trending NET yang dengan cepat melesat di deretan atas topik paling banyak dibicarakan di Twitter, saat ini di peringkat kedua.

Sebagian menyebutkan bahwa NET TV adalah stasiun TV yang sayang jika sampai gulung tikar. 

Berikut adalah beberapa cuitan netizen mengenai hal ini.

Menuai Komentar

Salah satu komentar muncul dari Indra Yudhistira, yang saat ini memegang dua stasiun TV milik Surya Citra Media (Emtek Group), yakni Indosiar dan SCTV.

BACA JUGA :  21 Oktober, Lupinranger Vs Patranger Resmi Tayang di RTV

Indra Yudhistira, seorang yang telah melanglangbuana di jagat pertelevisian mencuitkan pendapatnya di laman Twitter. Ia menyayangkan ini terjadi akibat pemirsa yang katanya benci sinetron, tapi tidak menonton saluran tersebut.

UPDATE: Ternyata Bukan PHK, Hanya ‘Efisiensi’

Dikutip dari detikcom, Chief Operating Officer PT Net Mediatama Televisi, Azuan Syahril memastikan tidak ada rencana PHK massal terhadap karyawan NET. Tapi pihaknya tak membantah sedang melakukan efisiensi. Manajemen menawarkan karyawannya untuk mengundurkan diri (resign) secara suka rela dengan diberi benefit yang layak.

“Yang ada kita di sini dalam rangka, salah satunya efisiensi segala macam, kita mencoba menawarkan ke karyawan yang berminat mengundurkan diri kita kasih kesempatan dan akan diberikan benefit,”

Dia menjelaskan, saat ini industri televisi memang mengharuskan pihaknya mengambil langkah-langkah efisensi, tapi bukan dengan PHK massal dan sepihak.

BACA JUGA :  21 Oktober, Lupinranger Vs Patranger Resmi Tayang di RTV

NET Masa Kini Makin Terseok-seok

Saat ini, mayoritas acara NET didominasi oleh konten kartun dari Cartoon Network dan re-run sinetron lawas. Acara berita seperti NET 5, NET 10, dan NET 16 sudah berhenti tayang. Konsep berita NET pun berubah menjadi berita santai (soft news).

Tak hanya itu, acara unggulan NET seperti Sarah Sechan, Pagi-Pagi, Indonesia Morning Show, dan masih banyak lagi juga sudah tidak hadir menyapa layar kaca.

Jangan lupa, tahun ini sudah pasti tidak ada NET 6.0. Acara ulang tahun NET yang ke-6 pun tidak digelar megah seperti 5 tahun kebelakang, dimana hanya diperingati secara sederhana di kantor NET. Acara ini juga menjadi momen terakhir Wishnutama menjadi CEO sebelum menjadi Komisaris.

NET sudah mulai terlihat ‘ngos-ngosan’ dan menjadi indikasi bahwa NET mulai kesulitan mempertahankan idealismenya dalam menyajikan konten acara. Tentu sulit mendatangkan ide dan kreatifitas tanpa ada keran pemasukan yang berarti.

Kok Bisa? Penjelasannya Simpel

Banyak yang bertanya, mengapa NET mulai jarang memproduksi tayangan dan lebih memilih menayangkan ulang konten lawas, dan memperbanyak durasi kartun? Simpel jawabannya.

Dengan menayangkan konten ‘impor’, pengeluaran untuk operasional tentu akan lebih sedikit dibandingkan jika NET memproduksi acara in-house sendiri. Meskipun demikian, ini tidak membantu banyak dengan rating yang ‘seret’.

Penyebab rating NET ‘seret’ juga sebenarnya dapat dilihat dari pola masyarakat yang sudah mulai mengurangi jam menonton televisi. Banyak yang sudah beralih ke konten YouTube. Meskipun NET termasuk channel yang masuk trending, namun itu tidak berpengaruh banyak.

Selain itu, jumlah pemancar NET di daerah masih sangat kurang, sehingga jangkauan siaran NET menjadi makin terbatas. Berbanding terbalik dengan stasiun televisi mainstream lainnya yang lebih luas. NET terlalu berfokus pada kelas penonton menengah ke atas yang lebih sedikit porsi iklannya dibandingkan pangsa pasar acara ‘alay’.

Bagaimana Menurutmu? Bagikan pendapatmu di kolom komentar!

Kembali ke Atas

MedForians Wajib Baca Ini!

×