Menu Tutup

Setelah Evangelion 3.0+1.0, Studio Khara Beralih ke Software Blender

Hai, MedForians!

Kabar terbaru hadir dari Studio Khara. Studio yang memproduksi sejumlah film anime Evangelion itu bakal beralih menggunakan sebuah software open source bernama Blender.

Pengumuman itu disampaikan melalui situs resmi studio tersebut pada 30 Juli. Studio Khara bersama anak perusahaan afiliasi Studio Q akan beralih ke Blender, perangkat lunak pemodelan dan animasi 3D sumber terbuka dan gratis, untuk produksi mendatang.

Tak hanya itu, mereka bersama Studio Q sedang membuka dukungan untuk program animasi 3DCG open-source Blender melalui Blender Development Fund, yang membantu mendanai pembuatan dari program ini.

Mereka masuk sebagai anggota perusahaan penyumbang dana berstatus Corporate Silver dan Bronze untuk membantu menyebarkan penggunaan Blender di Jepang

Studio Khara memang sempat menggunakan software Blender untuk dalam prngujian Evangelion 3.0+1.0. Hanya saja, pengerjaan film terbaru Evangelion itu masih menggunakan software lain, yakni 3ds Max dan Autodesk Maya.

Namun karena biaya berlangganan 3DS Max yang mahal, perusahaan awalnya dianggap menggunakan Autdesk Maya, sebelum akhirnya memutuskan menggunakan secara total Blender karena skala proyeknya yang lebih besar. Nantinya setelah film penutup Rebuild of Evangelion itu, Khara bakal total menggunakan Blender.

Blender sendiri adalah software open source gratis yang dapat diunduh oleh siapa saja yang ingin menggunakannya untuk proyek apa pun. Alat ini sebelumnya telah digunakan dalam proyek-proyek seperti Captain America: The Winter Soldier, Smash Bros untuk 3DS dan Wii U, model 3D NASA, dan Ubisoft beralih ke Blender untuk Studio Animasi internal mereka pada tahun depan.

BACA JUGA :  "Ratu Tsundere" Asuka Shikinami Dapatkan Versi Nendoroid

Mahalnya penggunaan 3DS Max dan perubahaan skala proyek itu sendiri memang diungkapkan oleh Presiden Studio Q dan Direktur Digital Khara, Hiroyasu Kobayashi serta Sutradara CGI Daisuke Onitsuka sebelumnya dalam wawancara dengan Endgadget Japan.

Dijelaskan oleh mereka berdua bahwa biaya tahunan untuk satu lisensi 3ds Max untuk Khara harganya 254.880 yen (sekitar US $ 2.400), sehingga memiliki studio dengan 20 – 30 karyawan yang menggunakan perangkat lunak akan menelan biaya hampir 6,3 juta yen (sekitar US $ 60.000) hanya untuk 3DS Max per tahun.

Biaya tersebut memang tidak banyak untuk perusahaan besar Hollywood, tetapi bagi studio anime khususnya bagi Khara ini memberatkan, terutama dikarenakan studio anime memiliki margin pendapatan yang sangat tipis.

Alasan utama lainnya untuk beralih ke Blender adalah adanya updater terbaru versi 2.8 yang menghadirkan. “Grease Pencil”. “Grease Pencil” memungkinkan pengguna untuk menggambar garis dalam ruang 3D menggunakan stylus, dan membiarkan mereka membersihkan bidikan 3DCG secara real time. Para animator bahkan dapat mengimpor gambar dari Blender ke After Effects untuk bagian komposisi digital dari produksi anime.

BACA JUGA :  "Ratu Tsundere" Asuka Shikinami Dapatkan Versi Nendoroid

Khara juga akan menggunakan mesin Unity untuk mencakup area yang tidak dapat dipenuhi dengan Blender.

Saat ini, 3ds Max dan Maya adalah standar industri untuk 3DCG di Jepang, tetapi Khara ingin mengubahnya. Karena cara kerja produksi anime, mereka harus bekerja dengan perusahaan luar dan bahkan studio lain untuk membuat anime, membuatnya sulit untuk beralih.

Sumber: Anime News Network, Crunchyroll

Kembali ke Atas

MedForians Wajib Baca Ini!

×