Menu Tutup

Demi IPO, Gojek Pastikan Era Bakar Uang Berakhir

Kabar mengejutkan untuk kalian yang mencintai promo dari Gojek, karena perusahaan decacorn itu bakal mengakhiri era bakar uang.

Dilansir dari Kompas.com, Selasa (22/10), pihaknya ingin mengakhiri era bakar uang karena ujung sebuah bisnis adalah pencapaian profit serta mampu menjalankan usaha secara sehat dan berkelanjutan.

“Setiap perusahaan, termasuk para founder Gojek, juga berkeinginan 3–4 tahun mendatang bisa IPO (initial public offering),” kata Vice President Corporate Affair Gojek Michael Say di Semarang, Senin (21/10) kemarin.

Beliau memberi gambaran betapa besarnya uang yang “dibakar” jika setiap trip Gojek memberikan subsidi (bonus) sebesar Rp 50 saja, sementara setiap bulan ada 100 juta transaksi.

Bersama Head Regional Corporate Affair Gojek Wilayah Jateng Arum K. Prasojo, Michael mengungkapkan tekad Gojek demi menghasilkan laporan keuangan yang “hijau” sebagai syarat untuk IPO.

BACA JUGA :  Dalang Boneka Sesame Street Caroll Spinney Meninggal Dunia

“Agar bisa IPO, mau tidak mau laporan keuangan kan harus ‘hijau’ sehingga tidak mungkin terus ‘bakar uang’,” ungkap beliau.

Arum menambahkan dalam menjalankan bisnis agar berkelanjutan, Gojek harus memperhatikan pilar (mitra) yang lain karena di dalam eksosistem ada kepentingan pengemudi/pengendara, merchants, pengguna, serta pemerintah.

Pihaknya berkeinginan semua mitra tumbuh berkelanjutan dalam platform super app Gojek untuk pelayanan orang (people), barang (things), dan uang (money).

Terbesar kedua di Asia Tenggara

Saat ini, aplikasi Gojek telah diunduh 125 juta, lebih dari 300.000 merchants, dan beroperasi di 207 kota dan kabupaten di Indonesia.

Tak hanya itu, Gojek menjadi perusahaan aplikasi terbesar nomor dua di Asia, juga berekspansi ke Singapura, Filipina, Vietnam, dan Thailand.

BACA JUGA :  Sekuel Film Live Action Blood-C Tayang 2020

Michael menyebutkan layanan Gofood tumbuh pesat karena budaya orang Indonesia memang suka makan.

“Transaksi ayam, geprek saja sepanjang 2018 ada 2,1 juta, belum martabak dan makanan populer lainnya,” pungkasnya.

Kembali ke Atas

MedForians Wajib Baca Ini!

×