Menu Tutup

Menkominfo Pastikan Status Unicorn Milik OVO

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya pada beberapa waktu lalu, OVO menjadi startup berstatus unicorn kelima dari dalam negeri versi CB Insights. Hal ini sudah dikonfirmasi oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.

Dilansir melalui Antara News, Minggu (6/10) saat gelaran acara Siberkreasi di Jakarta, Sabtu (5/10) kemarin, Rudiantara memastikan penyedia layanan dompet digital OVO sudah berstatus unicorn atau bernilai di atas satu miliar dolar AS.

“Saya sudah bicara dengan founder-nya, dan memang iya. Makanya, saya berani bicara setelah saya konfirmasi,” ujar Rudiantara.

OVO menjadi perusahaan rintisan (startup) kelima yang menyandang status unicorn di Indonesia. Firma analisis perusahaan, CB Insight, dalam situs mereka menulis valuasi OVO senilai 2,9 miliar dolar atau sekitar Rp41 triliun sejak 14 Maret 2019.

BACA JUGA :  Makin Kencang! AMD Luncurkan RX 5500 dan RX 5500M

“Kita patut bersyukur. Target kami sampai akhir 2019 ada lima unicorn. Sebelum akhir tahun ini, sudah ada unicorn baru. Selamat datang kepada OVO yang menjadi unicorn baru Indonesia, yang incorporated atau didirikan di Indonesia,” kata Rudiantara.

Sebelumnya, tiga perusahaan rintisan Indonesia telah menyandang berstatus unicorn, yaitu Traveloka, Bukalapak, dan Tokopedia, Sedangkan Gojek sudah naik satu tingkat lebih tinggi, dengan menyandang status decacorn.

“Saya berharap justru target kelima itu melebihi karena sebetulnya ada lagi yang berpotensi sebelum akhir tahun ini jadi unicorn. Sekarang, transaksinya sedang berjalan,” ujar Rudiantara ketika membahas tentang potensi perusahaan startup lain yang juga akan menyandang gelar unicorn.

Startup bidang pendidikan raih status unicorn?

Terkait potensi perusahaan rintisan lain sebagai unicorn selanjutnya, Rudiantara memberi isyarat bahwa startup itu berasal dari sektor pendidikan.

BACA JUGA :  Android 10 Baru Rilis, Google Siapkan Android 11

“Bagaimana pun, secara logika, 20 persen APBN pemerintah untuk pendidikan, lima persen untuk kesehatan. Jadi, masa sih tidak ada unicorn dari sektor itu,” pungkas Rudiantara.

Kembali ke Atas

MedForians Wajib Baca Ini!

×