Hybrid Working, Solusi Kerja Saat Pandemi Covid-19

Teknologi Agt 27, 2020

Plantronics, Inc. (“Poly” – dahulu Plantronics dan Polycom) (NYSE: PLT), perusahaan komunikasi global yang mendukung koneksi dan kolaborasi, pada Rabu (26/8) kemarin merilis laporan baru yang menyorot pergeseran dari “tempat” ke “tujuan” bekerja ketika perusahaan merespon krisis COVID-19, mendesain ulang operasi, dan menciptakan ulang cara mereka bekerja. ­

Co-working space di luar kota, ruang kerja di rumah yang ergonomis, dan percakapan informal virtual antar kolega – efek pandemi ini akan melambangkan era baru hybrid working.

Dengan menggandeng para ahli masa depan pekerjaan, desain ruang kerja dan psikologi, dua laporan Poly berjudul The Future of Work in the New Normal: Re-thinking your Digital Priorities, dan Hybrid Working: Creating the “next normal” in work practices, spaces and culture membuka jalan menuju “next normal”, di mana karyawan menikmati fleksibilitas dan pilihan, dan perusahaan berkembang berkat tim yang mendapat motivasi, kolaboratif, dan produktif.

“Pandemi yang sedang berlangsung saat ini telah mengubah cara perusahaan beroperasi, di mana perusahaan dipaksa untuk beradaptasi, atau berisiko tertinggal. Kita telah melihat fase pertama perusahaan bertransisi mengadopsi Remote Working, dan sekarang menyaksikan pergeseran ke arah cara kerja baru – Hybrid Working,” kata Pierre-Jean Châlon, Senior Vice President, Asia Pacific, Poly melalui rilis pers yang diterima MedForSquad.

“Perusahaan yang bertahan dalam “next normal” ini adalah yang memprioritaskan koneksi dan kolaborasi antar manusia pada saat mereka mendesain ulang praktik, ruang, dan budaya kerja untuk karyawan mereka.”

Praktik kerja setelah lockdown

Studi baru dari Ecosystm 360 yang dibuat oleh Poly itu membahas prioritas utama para pemimpin teknologi informatika & bisnis di Asia Pasifik pada saat normal berikutnya dimulai, dan memberikan panduan kepada perusahaan mengenai bagaimana cara menegosiasikan perubahan dalam model bisnis dan keterlibatan para karywan mereka.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa hybrid working akan menjadi sebuah kewajaran yang baru bagi banyak organisasi, dengan investasi berkelanjutan dalam keamanan siber, pendidikan, dan teknologi sebagai prioritas utama digital.

Dipicu oleh COVID-19, perusahaan memiliki kesempatan untuk mempertanyakan pentingya  pertemuan dan mendefinisikan kembali apa arti sebenarnya “bekerja”.

Dalam laporan bertajuk Hybrid Working: Creating the “next normal” in work practices, spaces and culture, Hybrid working akan memperkenalkan:

  • Pola kerja baru – kebijakan kerja baru yang memberikan fleksibilitas kapan dan di mana karyawan bekerja
  • Pekerjaan berbasis hasil – menghilangkan beban waktu dan lokasi, menjadi produktif dan memberikan hasil
  • Investasi optimal –melampaui kantor perusahaan untuk menciptakan ruang kerja personal yang kolaboratif dan didukung oleh teknologi di mana saja.

“Bahkan sebelum pandemi, cara bekerja sudah berubah karena bisnis sudah berubah. Saat ini, hanya sedikit perusahaan yang mengklaim teknologi menjadi penghalang untuk mengubah praktik, tetapi lockdown telah menyorot kebutuhan investasi di komponen budaya dan perilaku kerja yang fleksibel,” ujar Tom Cheesewright, futurolog terapan dan kontributor laporan Poly.

“Masa depan adalah  lingkungan kerja fleksibel yang memenuhi kebutuhan semua karyawan, memberi mereka pengalaman kerja yang memuaskan dan sebagai gantinya memungkinkan mereka untuk memaksimalkan nilai yang mereka kembalikan ke perusahaan.”

Ruang hybrid working

Dalam laporan juga menjelaskan mengapa menciptakan lingkungan terbaik supaya karyawan produktif dan kolaboratif menjadi penting untuk era baru hybrid working. Laporan Poly menetapkan tren global untuk ruang hybrid working yang akan muncul tahun 2020 dan seterusnya:

  • Ruang kerja di rumah akan mendapat perhatian sama banyak dengan dapur – diatur secara ergonomis dan didesain menjadi tempat yang menginspirasi
  • Co-working menjadi sesuatu yang umum – perusahaan akan berinvestasi di ­co-working space di luar kota untuk menarik bakat. Kolaborasi kelompok dan koneksi sosial dengan kolega akan mengarah kepada  pertukaran ide dan inovasi
  • Lanskap kota akan berubah – Apakah masyarakat akan terus melihat gedung perkantoran tinggi? Kota sebagai struktur akan tetap sama karena kota akan terintegrasi ke kehidupan manusia, restoran adalah perluasan dari dapur dan gym sebagai ruang olahraga.

Pembahasan utama dan data laporan lainnya

Dari laporan lainnya yang bertajuk The Future of Work in the New Normal: Re-thinking your Digital Priorities, beberapa yang menjadi pembahasan utama ini antara lain:

Pola/Model Hybrid Working Akan Terus berkelanjutan

Bekerja dari rumah akan menjadi hal yang biasa bagi kebanyakan organisasi. 40% organisasi yang telah disurvei berharap untuk terus melakukan pertemuan secara virtual, bahkan setelah COVID-19, di mana pun lokasinya. Seperti contoh di Filipina, penyedia bisnis proses outsourcing (BPO) mengadakan uji coba model yang berbeda dengan sebagian pekerja yang bekerja dari rumah dan sebagian bekerja di kantor.

Perubahan pada lingkungan tempat kerja;

Tempat kerja akan disesuaikan berdasarkan kebutuhan untuk bertemu dan berkolaborasi dalam sebuah proyek; 55% responden mengharapkan peningkatan penggunaan teknologi digital untuk karyawan berpengalaman; 47% responden mengharapkan peningkatan penggunaan alat dan platform kolaboratif bahkan setelah krisis COVID-19 berakhir.

Sementara hanya 15% pemimpin bisnis di Asia Pasifik menyatakan mereka akan mengurangi investasi, para pemimpin bisnis di Malaysia melawan tren, dengan 33% mengindikasikan mereka berharap untuk mengurangi penggunaan ruang kantor komersial pasca-COVID-19.

Organisasi akan Fokus pada Pekerjaan Jarak Jauh 

Menerapkan akses VPN

44% organisasi yang telah di survei menerapkan atau meningkatkan infrastruktur VPN mereka untuk memungkinkan lebih banyak karyawan dapat mengakses alat internal dan data rahasia dengan aman, serta untuk memungkinkan bekerja dengan jarak jauh bagi sebagian besar tenaga kerja mereka.

Investasi laptop dan perangkat lunak yang kolaboratif

Banyak organisasi berinvestasi laptop untuk karyawan yang menggunakan desktop (36%) dan perangkat lunak kolaboratif (41%) selama masa krisis ini. Di beberapa negara di Asia Pasifik – dan terutama di negara berkembang – karyawan tidak memiliki perlengkapan untuk bekerja secara efektif dari rumah. Laptop, monitor, dan headset harus dibeli untuk bekerja di lingkungan rumah.

Perubahan proaktif pada perlindungan data dan kebijakan SDM

Organisasi mengambil kesempatan untuk mengubah perlindungan data dan penyesuaian kebijakan (43%), mengevaluasi kembali kebijakan SDM (34%), dan menerapkan langkah-langkah untuk memantau kesejahteraan emosional pekerja mereka (31%).

Konferensi Video akan Menggerakan Keterlibatan & Kolaborasi Tempat Kerja

Konferensi Video menjadi sebuah cara baru – 63% organisasi di Asia Pasifik secara signifikan meningkatkan investasi mereka dalam perangkat konferensi dan headset untuk mengatasi tantangan dalam berkolaborasi selama krisis COVID-19, dengan 41% meningkatkan investasi secara signifikan pada perangkat konfernsi video.
Adopsi video cloud terus berkembang – 33% organisasi meningkatkan investasi mereka dalam video cloud dan solusi untuk berkolaborasi dikarenakan pandemi, dengan permintaan yang diperkirakan akan terus berlanjut selama 12 bulan ke depan, mereka meningkatkan kemampuan teknologi mereka untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang semakin jauh.

Seputar Poly

Plantronics, Inc. (“Poly” – dahulu Plantronics dan Polycom) (NYSE: PLT) adalah perusahaan komunikasi global yang mendukung koneksi dan kolaborasi.

Poly menggabungkan keahlian audio yang legendaris dan kemampuan video dan konferensi yang kuat untuk mengatasi gangguan, kerumitan, dan jarak yang membuat komunikasi masuk dan keluar tempat kerja menjadi menantang. Poly percaya pada solusi yang membuat hidup lebih mudah ketika bekerja sama dengan layanan mitra kami. Headset, perangkat lunak, telepon meja, konferensi audio dan video, analisis, dan layanan kami digunakan di seluruh dunia dan merupakan pilihan utama untuk setiap jenis ruang kerja. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi: www.poly.com.

Poly, desain logo berbentuk baling-baling, dan logo Poly adalah merek dagang Plantronics, Inc. Semua merek dagang lain adalah milik pemiliknya masing-masing.

Tag

Yoan Fernanda

Seorang penggemar Pop Culture, baik Western, Korea, maupun Jepang. Dan seorang Petrolhead, fans berat Subaru #FL4TISJUSTICE

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.