[Opini] Perlukah Kita Kedatangan Stasiun Televisi Baru di Era Digital Seperti Sekarang?

Media Jan 08, 2021

Hai, MedForians. Artikel ini mungkin akan sedikit lebih panjang daripada artikel lainnya di Media Formasi.

Saat ini mungkin kalian menghabiskan lebih dari 50% waktu kalian di depan layar gadget (..apalagi kalian yang harus bekerja atau belajar dari rumah, kan?).

Meskipun belum sepenuhnya "teruji klinis", namun kita dapat "sepakat" jika kita yang hidup di kota besar sudah jarang memegang remote TV kita. Televisi sudah dibiarkan tergantung di tembok, atau terdiam di atas meja, tidak dinyalakan sesering dulu lagi. Mungkin benar, mungkin tidak.

Mungkin ada juga sebagian kecil MedForians yang telah menggunakan Smart TV, entah dengan bantuan Chromecast atau bahkan dengan TV pintar kelas atas.

Siaran televisi (terutama siaran Free-to-Air yang dapat disaksikan secara gratis) masih menjadi andalan bagi banyak orang di Indonesia untuk mendapatkan hiburan dan informasi.

Acara sinetron yang dapat ditonton di RCTI dan SCTV, acara dangdut dan FTV azab yang disiarkan Indosiar, serta berita yang 24 jam tayang di Metro TV, tvOne, dan Kompas TV menjadi contoh nyata siaran televisi masih dikonsumsi masyarakat luas.

Namun sekarang banyak orang yang mengakui bahwa mereka sudah jarang atau bahkan tidak pernah menonton siaran televisi lagi, hingga muncul pertanyaan...

Perlukah Stasiun Televisi Baru?

Lalu, kenapa sebagian dari kita seakan-akan merasa TV sudah tidak relevan lagi? Sebenarnya alasan saya ini mungkin bisa langsung menjadi jawaban bagi pertanyaan ini.

Saya sendiri jujur sudah sejak 2 tahun lalu tidak menyalakan TV milik saya lagi. Selain memang karena kondisi TV yang sudah tidak layak pakai lagi akibat usia yang sudah menua, keluarga saya memang mulai tidak tertarik dengan sajian acara televisi dan lebih menghendaki konten yang ada melalui ponsel pintar di genggaman tangan kami.

Televisi di rumah saya yang sudah tidak pernah dinyalakan lagi.

Ya, konten on-demand. Dimana kita bisa memilih apa yang kita ingin tonton, tanpa harus menunggu jadwal-jadwal tertentu. Platform-platform digital seperti YouTube dan lainnya membuka gerbang konten yang lebih beragam dan sesuai dengan keinginan kita. Orang-orang yang sebelumnya hanya menjadi konsumen kini juga dapat menjadi produsen.

Ini sebenarnya belum terlalu menjawab pertanyaan besar ini, jadi baca lebih lanjut.

Stasiun Televisi Baru Masih Akan Bermunculan

Meski demikian, stasiun televisi baru di Indonesia terus bermunculan tanpa henti. Ditambah lagi dengan disahkannya UU Omnibus Law yang melancarkan migrasi siaran analog ke siaran digital.

Dengan adanya siaran digital, "slot" yang dapat digunakan untuk mendirikan kanal televisi baru semakin luas dan tidak akan berhenti.

Baru di tahun kemarin Media Group News kepunyaan Surya Paloh meluncurkan Magna Channel yang akan memiliki konten hiburan, dan nantinya BNTV yang berfokus ke siaran bisnis. Kedua kanal tersebut bersiaran hanya di televisi digital.

Jangan lupakan televisi digital yang sudah ada seperti InspiraTV, NusantaraTV, dan ratusan televisi lokal di daerah lainnya. Pilihan konten siaran akan semakin banyak hingga mungkin akan menimbulkan sebuah dampak yang luar biasa.

Sulitnya Bersaing

Dampak ini sendiri yang menjadi lambatnya negara kita beralih ke siaran digital akibat lobbying Asosiasi Televisi Swasta Indonesia, itulah yang diceritakan oleh dosen saya di kampus yang kebetulan juga mantan Dirut JawaposTV, Irwan Setyawan.

Hal yang ditakutkan itu adalah saturasi pasar.

Semakin banyak pilihan siaran televisi, semakin sulit lembaga penyiaran untuk menjadi beda dari yang lain.

Untuk menjadi beda pun juga tidak mudah. Banyak televisi yang sudah mencobanya namun gagal untuk tetap membiayai "perbedaan"nya. Misalnya saja seperti Kompas TV yang terpaksa menjadi televisi berita dari yang sebelumnya dirancang menjadi "NatGeo-nya Indonesia" dan NET. yang saat ini masuk dalam periode "dilema", hidup segan mati tak mau.

Itupun terlepas dari fakta dengan total 11 televisi swasta nasional yang sudah habis-habisan bersaing, ditambah lagi 9 televisi berjaringan yang juga punya market yang jauh lebih kecil. 20 televisi swasta analog, tanpa menghitung televisi swasta digital.

Konten Siaran Hanya Jadi Pengisi Jam Tayang?

Kalimat problematik yang jadi jimat acara low-cost

Masyarakat banyak yang beralih ke platform lain karena kebebasan memilih konten yang disukai. Ini tidak lain dan tidak bukan karena konten siaran yang dianggap tidak menarik lagi, bahkan justru mengambil dari platform digital.

Acara-acara seperti On The Spot dari Trans 7 atau Dunia Punya Cerita dari Trans TV hanya menampilkan konten yang "diambil seizin YouTube" (yang kenyataannya tidak).

Kontras dengan kedua acara tersebut, dengan konsep "commentary" konten internet, The Comment NET mengambil langkah lebih jauh dengan merekrut Darto dan Danang, duo penyiar radio yang luar biasa terkenal dan dapat membawa acara tersebut jadi pembawa nama NET ke pemirsa yang lebih luas.

Acara low-cost seakan menjadi taktik stasiun televisi untuk mengisi jam siaran mereka dan tetap mendapatkan penghasilan dari iklan. Atau lebih parahnya lagi, slot acara hanya diisi oleh program Home Shopping yang tidak bermanfaat, seperti yang banyak ditemui di berbagai TV lokal.

Jawaban dan Solusi

Akhirnya kita masuk ke bagian terakhir artikel ini. Kira-kira apa yang dapat menjawab pertanyaan kita di awal tadi? Apa solusi terbaik untuk memecahkan dilema ini?

Untuk jawabannya sebenarnya sederhana. Televisi masih bisa menjadi relevan, dan tentu, kita mungkin tidak perlu kedatangan puluhan televisi baru.

Mari kita lihat contoh di televisi luar negeri. Ada banyak acara yang dapat menjadi kenangan banyak orang sehingga dapat menjadi sarana nostalgia, dan meraup sukses. Sebut saja America's Funniest Home Videos yang bermodalkan video kiriman pemirsa dan host.

Bagaikan investasi, hanya dengan modal kecil namun dengan eksekusi yang tepat akan menimbulkan pundi-pundi uang yang besar di kemudian hari.

Hal ini tentu tidak hanya harus dilakukan oleh televisi yang dimiliki grup media besar saja, namun juga ratusan televisi lokal di seluruh Indonesia.

Dengan menciptakan acara yang dapat dikenang, beberapa tahun kemudian kita mungkin akan merasa "kangen dengan acara tersebut" dan stasiun televisi dapat memberikan opsi menonton secara on-demand di platform digital yang sudah ada atau membuat platform baru.

Namun tentu, semuanya mungkin sudah terlambat. Penetrasi pemirsa televisi masih terlihat stagnan. Dan risiko kegagalan adalah satu hal yang paling tidak bisa diambil oleh stasiun televisi. NET. sendiri sudah mencobanya dengan Zulu apps yang kini sudah tidak ada kabarnya lagi.

Jadi, mari kita lihat dan tunggu saja perkembangan pertelevisian kita. Apakah dengan banyaknya stasiun televisi baru nanti akan menjadi angin segar, atau kegagalan misi "menjadi alternatif" yang terulang dan membawa petaka?

Tag

Muhammad Ferdiansyah

Write. Design. Learn. Media/Tech/J-Pop Enthusiast.

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.