Kehadiran grup musik asal Kyoto bernama Black Petrol memberikan nuansa segar bagi para pendengar internasional yang gemar mencari karya eksperimental bernuansa baru.
Penjelajahan mereka di berbagai panggung membawa cerita tersendiri, terutama terkait bagaimana mereka beradaptasi dan menyerap energi positif dari lingkungan sekitar tempat mereka singgah.
Mengurai Pesona Jakarta dari Kacamata Musisi
Saat mengunjungi Indonesia untuk menjadi tamu event musik di Lalala Fest 2026, grup ini membagikan pandangan unik mereka tentang kota Jakarta. Mereka menilai bahwa terdapat sebuah harmoni yang unik di tengah hiruk pikuk keramaian kotanya.
Salah satu personilnya, Somaota yang berposisi menjadi MC sekaligus rapper band mengungkapkan, sikap warga lokal yang ramah dan mudah tersenyum ternyata memberikan rasa damai tersendiri bagi para anggota band.
Sebuah momen yang cukup berkesan bagi mereka adalah saat melihat warga bermain catur di pinggir jalan, sementara tidak jauh dari titik tersebut terdapat seseorang yang tertidur pulas bersama seekor kucing. Hal tersebut memberikan impresi kuat bahwa masyarakat hidup dengan sangat bebas sesuai dengan keinginan masing masing individu.
Selain itu, mereka sangat tertarik dengan budaya nongkrong warga lokal yang dipandang mirip dengan konsep tamari-ba di Jepang. Kebiasaan berkumpul santai dan meminum kopi bersama para kru tanpa ada kegiatan spesifik dianggap sangat merepresentasikan budaya setempat yang hangat. Karena berbagai pengalaman berkesan tersebut, mereka merangkum perjalanan di ibukota ke dalam tiga kata kunci utama, yakni makanan, kebebasan, dan kopi.
Warna Eksperimental dan Evolusi Karya

Dari segi musikalitas, grup yang beranggotakan Takaosoma pada gitar, Somaota di posisi vokal, Takehiro memegang bas, Arumu Kuga pada drum, Ishio di balik kibor, serta Yasuhara Daiki yang memainkan saksofon ini menawarkan karya yang sangat kaya. Mereka dikenal luas sebagai ansambel jazz hiphop eksperimental yang mahir memadukan improvisasi instrumen secara langsung, tekstur rok progresif, hingga sentuhan rap kontemporer.
Bagi pendengar yang baru mencoba menyelami genre jazz, ritme musikal mereka terdengar sangat unik dan memikat. Setiap nada yang dimainkan tersalurkan secara sinkron antar anggota, sehingga masing masing personel mampu memancarkan warna dan karakter khas mereka sendiri saat tampil beriringan. Gaya eksploratif ini turut dipengaruhi oleh gaya musisi band Jepang se-genre seperti JPEGMAFIA dan Poris.
Saat tampil di panggung festival, mereka selalu menitikberatkan pada interaksi bersama penonton melalui teknik panggilan dan respons untuk membangun suasana yang meriah. Penampilan mereka di Jakarta terutama di Coma M Bloc pada Senin (24/8/2026) lalu juga diperkaya dengan kolaborasi khusus bersama Annisya, yang bertujuan untuk menciptakan nuansa panggung yang lebih bebas sekaligus menunjukkan fleksibilitas suasana dari musik mereka.
Mengulik Kembali Dasar Musik Eksperimen Lewat Diaspora

Proses kreatif grup ini pun terus berevolusi, terutama dalam penggarapan album Diaspora. Album tersebut lahir dari sebuah keinginan untuk menembus batasan gaya komposisi band langsung konvensional dengan cara menyuntikkan elemen musik ketukan elektronik.
Dinamika pengerjaannya juga ikut berubah ketika terdapat anggota yang bertindak layaknya produser untuk memberi arahan spesifik kepada para pemain instrumen. Karya mereka kini semakin kental dengan pengaruh musik elektronik, UK Garage, dan 2-step karena ketertarikan mereka terhadap eksplorasi karya pembuat ketukan seperti Blue Clear dan OtoRo.
Kehadiran grup musik ini tidak hanya memperkenalkan karya eksperimental yang kaya akan sinkronisasi instrumen, tetapi juga membuktikan bagaimana budaya lokal sebuah kota mampu memberi ruang kenyamanan bagi seniman internasional.
Evolusi musikal mereka melalui album terbaru menunjukkan bahwa eksplorasi nada tanpa batas akan selalu menciptakan harmoni baru yang berbekas di hati pendengarnya.





