Menu Tutup

Fokus: Salahkah Menjadi Seorang Lolicon?

lollicon

Hai, MedForians!
Pada topik fokus kali ini, redaksi akan mengulas terkait topik dari Lolicon. Seperti yang diketahui, budaya lolita complex, atau lebih dikenal dengan lolicon akhir-akhir ini sedang menjamur. Salah satu media besar seperti Detik.com ikut memberitakan kebudayaan ini. Ditambah adanya kasus kriminal yang dikaitkan antara seorang lolicon dengan anak dari seorang aktris ternama, Nafa Urbach, serta kasus grup Facebook Official Loly Candy’s 18+ yang menyebarkan pornografi anak, membuat lolicon dianggap sebagai sebuah bentuk kejahatan dan kelainan di mata masyarakat umum, karena dikaitkan dengan pedofilia. Namun, apakah itu salah untuk menjadi seorang lolicon? Lebih jelasnya redaksi akan mengulas lebih detail.

Definisi dan Sejarah Lolicon

Istilah Lolicon sendiri berasal dari Jepang. Menurut wikipedia, Lolicon dipercaya oleh beberapa orang sebagai salah satu klasifikasi dari otaku karena kebanyakan otaku menyukai karakter berwajah seperti anak-anak. Namun, jauh sebelum wikipedia ada, istilah lollicon sudah ada sejak tahun 1955. Istilah lolicon berawal dari Barat lewat novel monumental Vladimir Nabokov berjudul Lolita, yang memuat cerita obsesi pria dewasa dengan gadis 12 tahun. Namun publik Jepang lebih terasosiasi dengan istilah itu lewat karya terjemahan Russel Trainer berjudul The Lolita Complex (1969).

Di satu sisi, banyak yang menyebutkan bahwa Lolicon merupakan budaya dari kebudayaan Jepang modern, khususnya yang terkait dengan anime, game dan manga. Namun, ada beberapa anggapan ahli yang menyebut bahwa Lollicon bukanlah sebuah fenomena budaya, melainkan fenomena media yang mewabah. Berikut pernyataan dari Patrick W Galbraith dilansir dari artikel Detik.com berjudul Lolicon: Saat Pria Berfantasi tentang Gadis di Bawah Umur.

“Kadang lolicon dideskripsikan sebagai subkultur, namun lolicon sebenarnya lebih kepada fenomena media yang mewabah,” tulis Patrick W Galbraith dari The University of Tokyo dalam tulisan ‘Virtual Child Pornography in Japan’.

Sejarah lolicon dan seksual sendiri sudah cukup panjang, sehingga menambah citra buruk Lolicon. Dilansir dari artikel detik.com berjudul Lolicon: Saat Pria Berfantasi tentang Gadis di Bawah Umur, sejak 1979, muncul manga dengan konten gadis bugil. Manga shojo (diperuntukkan bagi pembaca perempuan) kemudian berkembang menyasar konsumen pria dewasa. Mulai tahun 1980-an, banyak pria muda yang lebih menyukai gambar dua dimensi shojo ketimbang foto pornografi.

BACA JUGA :  Sambut Seri Terbaru Aikatsu: Aikatsu on Parade!

Pada 1979, barulah lahir karya yang berpengaruh untuk langgam lolicon, yakni kompilasi White Cybele (1979) karya Azuma Hideo. Di kemudian hari, Hideo dijuluki sebagai “Bapak Lolicon”. Gambar yang ditampilkan Hideo punya karakter yang sama dengan karya Osamu Tezuka (komikus yang terkenal dengan Astro Boy), yakni gaya gambar yang sangat kartun nan imut, namun karya Hideo dibuat bersifat seksual.

Demam lolicon (lolicon boom) terjadi pada awal 1980-an. Pasar telah cukup matang untuk mengonsumsi konten seperti itu. Majalah khusus lolicon muncul seperti Lemon People pada 1981 dan Manga Burikko pada 1982. Perusahaan Enix merilis gim komputer untuk dewasa berjudul ‘Lolita Syndrome’ pada 1983. Setahun setelahnya, muncul animasi erotis pertama di Jepang berjudul ‘Lolita Anime’.

Melihat dari definisi maupun pernyataan dan sejarah, sebenarnya istilah lolicon sudah sangat berbeda dengan pedofilia. Seperti yang diketahui, Pedophilia sudah jelas sebuah penyakit kejiwaan, di mana seseorang remaja atau dewasa menyukai anak-anak sebelum pubertas (13 tahun ke bawah) dengan konteks seksual. Berbeda secara garis besar, Lolicon adalah kondisi di mana seseorang menyukai karakter atau orang tertentu yang terlihat atau menyerupai seperti anak-anak (termasuk anak-anak itu sendiri).

Contoh Karakter Loli dari Anime dan Manga

Karakter-karakter loli yang berada di anime tak mesti merupakan anak di bawah umur. Ada pula karakter atau bahkan manusia asli pemeran karakter (cosplay) yang sebenarnya sudah dewasa namun punya kadar keimutan yang tinggi, sehingga disebut loli. Karena penulis tidak terlalu mengingat karakter loli yang memiliki usia legal, penulis hanya mengenal lima karakter ini. Pertama adalah Hestia (dari anime Danmachi), Mafuyu Hoshikawa (Blend S), Natsuki Minamiya (Strike The Blood), Oshino Shinobu (Monogatari series) dan Rory Mercury (Gate: Jietai Kanochi Nite, Kaku Tatakaeri). Karakter-karakter ini sudah berusia legal (dewasa). Mafuyu berusia 20 tahun, Natsuki Minamiya berusia 26 tahun, sedangkan Hestia, Oshino Shinobu, dan Rory berusia ratusan tahun. Berikut cuplikan gambar dari karakter-karakter tersebut

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Perkembangan Lolicon di Indonesia dan Dunia

Kembali ke perkembangan lolicon yang merebak di Indonesia, perkembangan internet tak luput membuat pecinta anime dan manga menggemari para gadis lolli ini. Peredaran komik bajakan baik di website maupun sosial media disinyalir menjadikan istilah ini semakin populer, dan tak bisa dicegah.

BACA JUGA :  Bulan November, City Hunter Live Action Rilis di Jepang

Dilansir dari Detik.com, di negara asal lolicon, ketegasan dalam menindak konten pornografi dalam manga juga masih menjadi perdebatan. The Guardian dalam berita 27 Oktober 2015 menjelaskan, PBB meminta jepang untuk melarang peredaran manga yang berkonten kekerasan seksual terhadap anak-anak. Namun di Jepang sendiri, ada resistensi dari kreator manga karena masalah ini bakal berurusan dengan kebebasan berekspresi. Jepang, sejak 2014, masih sebatas melarang kepemilikan gambar foto kekerasan terhadap anak, namun belum sampai ke pelarangan manga, anime, dan gambar komputer yang memuat hal itu.

Penutup

Dari kesimpulan ulasan, bisa didapatkan bahwa lolicon dan pedofilia merupakan dua hal yang berbeda, dimana pedofilia merupakan kelainan sekaligus sebagai kriminal. Istilah lolicon mulai dianggap negatif masyarakat awam karena perkembangan sejarahnya yang dikaitkan dengan pornografi juga mendukung hal demikian. Sebagai penutup, redaksi akan menyampaikan pendapatnya melalui caption berikut ini.

Menjadi penggemar karakter loli di Indonesia sendiri masih menjadi hal yang cukup tabu di masyarakat awam. Meskipun demikian, tak sedikit penggemar budaya popkultur Jepang yang tetap bersikukuh untuk menyukai karakter imut ini.

Muhammad Ferdiansyah, Pemimpin Umum Redaksi Media Formasi

Sumber lainnya :

Wikipedia – Lolicon

Wikipedia – Lolita

Duniaku.net

Detik.com – Wibu dan Otaku di Indonesia: Lolicon Bukan Pedofilia

 

Kembali ke Atas

MedForians Wajib Baca Ini!

×